Biasanya, acara-acara diskusi yang kuhadiri adalah acara tanpa harus membayar tiket masuk. Kalian tahu kan maksudku? Gratis. G R A H T E S. Jika aku diajak ke acara sastra atau kebudayaan, ada dua pertanyaan yang harus terjawab dengan jelas.
Pertanyaan itu adalah, "di mana? dan "bayarnya berapa?" Jika jawabannya tanpa harus membayar dan lokasinya dekat, aku akan menjawabnya, "Oke," tanpa pikir panjang. Tetapi jika tidak memenuhi dua persyaratan di atas, aku harus mempertimbangkan berbagai macam hal.
Misalnya seperti ini.
"Rip, ada acara Kampung Cempluk, acara kebudayaan dan sastra yang bagus sekali. Banyak pameran, pembacaan puisi, musik tradisional, dan macam-macam. Tidak ingin ke sana?" tanya seorang temanku.
"Di mana?"
"Di Dieng atas. Lumayan jauh."
Oke, kata lumayan jauh. Ini sudah mengganggu pikiranku. Pertama, ke sana harus menggunakan motor. Dan motor butuh bensin. Dan bensin harus beli. Dan beli pakai uang. Jika kondisi keuanganku sedang jaya-jayanya, mungkin aku bisa hadir. Tetapi jika sedang krisis moneter, aku menolaknya, dan meratapi mengapa acara sebagus itu harus ada saat aku sedang bersitegang dengan dompetku. Apabila niat licikku muncul, aku menghipnotis teman-teman agar mau menanggung semua biayanya. Kadang aku memang selicik itu. Maafkan aku teman-teman. Dunia memang kejam.
Misalnya lagi.
"Rip, ada parade sastra. Tidak ingin ke sana? Gratis kok."
"Di mana?"
"Jogja."
"Dor!" tiba-tiba terdengar suara letusan pistol, dan orang yang menawariku terkapar dengan kepala bercucuran darah. Sekali lagi, dunia memang kejam.
Untuk kalian anak kos, aku yakin kalian paham betul mengapa aku selalu mengincar acara tanpa HTM. Hidup anak kos!
Baru jumat (23/10) kemarin aku menghadiri acara Membaca Sastra Indonesia pasca 2000-an di kafe pustaka yang menghadirkan Prof. Djoko Saryono (Budayawan dan guru besar Universitas Negeri Malang), Putu Fajar Arcana (Sastrawan dan Penyunting Kompas Minggu), juga Agus Noor (Sastrawan Nasional). Seperti yang kukatakan, acara yang kuhadiri sering kali acara tanpa HTM. Jadi, aku hanya memesan kopi hitam robusta—pada akhirnya, temanku berbaik hati membayar kopiku. Hore!
Ini foto ketika acara.
![]() |
| Dari kiri: Mas Denny sebagai moderator, Bli Can, Om Djoko, dan Mas Agus Noor. Abaikan dua minuman dan kudapan, jelas sekali itu bukan punyaku. |
Bli Can (panggilan akrab Putu Fajar Arcana) dan Agus Noor datang ke Malang untuk program workshop cerpen Kompas sabtu pagi. Nanti akan kuulas juga di sini. Sabar. Orang sabar selalu dapat kopi gratis.
Banyak hal menarik yang kidapatkan, juga pengetahuan baru. Baiklah, karena ilmu itu harus dibagi, dan aku orangnya baik hati,
Secara garis besar, khususnya materi yang disampaikan Agus Noor (ini untuk kalian para penulis sastra) berkaitan dengan penulis. Menurut Agus Noor (siah, macam karya ilmiah pakai kutipan segala), "Sastra adalah cara penulis untuk membangun dunia yang ingin diperjuangkan. Seorang penulis sedang menciptakan dunia baru untuk diafirmasi, karena ia menolak dengan dunia yang ada." Umumnya, seorang penulis memang seperti itu. Mereka ingin dunia yang ada mengikuti dunia yang mereka ciptakan. Tetapi, tentu ada hal lain yang dilakukan penulis selain 'menciptakan dunia'. Ini menurut Bli Can, bukan Agus Noor lagi. "Sastra selalu merespon situasi." Nah, kawan, dari situasi yang ada di dunia nyata, penulis memberi respon, entah itu kritik, atau 'menciptakan dunia baru' seperti yang kutulis di atas. Untuk itulah, seni dibutuhkan untuk memecahkan masalah manusia yang belum terpecahkan.
Kembali lagi ke Agus Noor yang menegaskan, "Penulis harus berani hidup di dunia yang sunyi." Makna dari kalimat ini sangat dalam, kau tahu. Penulis memang sering kali menyendiri, merenungi keadaan sekitarnya, terlihat seperti orang gila, atau orang yang kurang perhatian pacar. Kurasa ini cukup untuk menjawab pertanyaan mengapa aku tidak punya pacar
Setelah acara selesai, agar kekinian, aku berfoto bersama Agus Noor, sastrawan nasional itu.
![]() |
| Semoga suatu hari aku menjadi seperti dia |
Keesokan harinya, aku hadir dalam acara workshop cerpen Kompas, setelah terpilih menjadi salah satu dari 34 peserta. Setiap peserta mendapatkan satu kaos berkerah, note, bolpoin, dan buku Cerpen Pilihan Kompas 2014.
![]() |
| Ini barang gratisan itu. |
Setiap peserta diwajibkan untuk memakai kaos berkerah yang diberikan Kompas. Kaos itu berwarna merah terang dengan kerah hitam, dan hiasan tulisan 'Kompas' di dada kiri. Mari kita lihat penampakannya.
Pertama kali aku bercermin, aku merasa seperti pegawai Al-fa yang tiap kali ada pembeli selalu mengatakan, "Selamat malam, selamat berbelanja." Banyak orang curiga, mereka adalah orang-orang yang lelah sendirian, lalu mengucapkan selamat malam kepada siapapun. Kasian sekali. Ingat akan hal itu, aku bahkan sempat berpikir berdiri di balik daun pintu aula perpustakaan. Bila ada orang yang datang dan masuk ke aula, maka aku akan mengatakan, "Selamat pagi, selamat berbelanja."
Tetapi sejujurnya, kaos ini sangat oke dan cool. Mungkin ini karena kenyataan bahwa aku anak kos, dan mensyukuri apapun barang gratisan yang bisa dipakai.
Di tulisan ini, aku akan membagi bagaimana menjadi seorang penulis sastra yang disampaikan Agus Noor.
Pertama, Kalimat pertama dalam cerita adalah janji, seperti ciuman pertama. Lalu, seperti apa ciuman pertama? Hm... Hm... Hm..... Aku tidak bisa menjawabnya (sambil membayangkan). Kalian sendiri yang menjawabnya. Yang jelas, dalam sebuah cerita, terutama cerpen, penulis harus menjanjikan tulisannya bagus pada kalimat pertama. Penulis harus bisa memberi kesan menarik dalam kalimat pertamanya. Kira-kira seperti itulah. Untuk masalah ciuman pertama, hm.... hm.... hm...
Kedua, untuk menulis cerita yang menarik, lihatlah sebuah masalah atau keadaan atau apapun dari persepektif yang berbeda. Berpikirlah yang kira-kira tidak terpikirkan oleh orang lain. Jangan berpikir tentang sesuatu yang terlalu mainstream.
Emb.. Misalnya begini. Agus Noor memberi satu kata; Roti. Sebelumnya, Agus Noor berkata, "Setiap kata selalu memancing kata lain." Lalu, apa yang kalian pikirkan tentang roti? Bulat? terlalu umum. Kenyal? Gurih? masih umum. Aku sendiri berpikir tentang tepuk tangan. Roti dan Tepuk Tangan? Kira-kira, apa hubungannya? Cerita seperti apa yang bisa dihasilkan? Aku sudah menulisnya di akun fesbukku. Silahkan kalian cek sendiri di sini.
Ketiga, Menulis itu seperti bercinta. Agar tidak bosan, kita harus melakukan variasi gaya. Bercinta? Hm.. hm... hm... yah, maksud Agus Noor di sini adalah, bagaimana teknik kita menulis. Jangan sampai terpaku pada satu gaya. Buatlah sesuatu yang beda. Biar tidak bosan. Makanya seperti bercinta. Hm... hm... hm...
Keempat, Jangan pernah meninggalkan laptop saat kehabisan ide. Untuk yang ini, kurasa sedikit rumit. Ketika kita menulis, lalu kita kehabisan ide, Agus Noor menyarankan jangan meninggalkan laptop. Kita boleh meninggalkan jika kita sudah tahu cerita kita akan dibawa kemana, seperti Si Anu akan membunuh si Ina, terlepas dari bagaimana caranya. Jadi, ketika kembali ke depan laptop, kita hanya memikirkan cara si Anu membunuh si Ina. Ini berkatian dengan pesan kelima, Bukan berusaha menyelesaikan kalimat, tetapi berusaha menyelesaikan cerita. Paham? Sip.
Keenam, Penulis yang baik bisa 'menghadirkan suasana', bukan hanya 'mendeskripsikan suasana'. Ketika menulis, usahakan pembaca terlarut dalam suasana cerita yang kita tulis. Jangan sampai kita hanya mendeskripsikan suasana cerita tanpa bisa dirasakan oleh pembaca. Buatlah pembaca berdegup tegang seperti ikut dalam persidangan jika kita menghadirkan cerita sidang di pengadilan. Buatlah pembaca ikut berdebar menunggu keputusan hakim tentang hukuman bagi orang yang merebut pacar orang. Misalnya, diasingkan ke planet Pluto.
Nah, kira-kira itulah, Kaum Puyenk, sedikit ilmu yang bisa saya bagikan kali ini. Semoga bermanfaat. Sejujurnya, aku sendiri terkejut bisa menulis hal serius seperti ini di sini. Tapi, ya.. sekali-kali lah aku membagikan hal yang bermanfaat.
Ke depannya, doakan semoga banyak acara sastra dan kebudayaan yang dekat dan gratis, agar aku bisa menimba ilmu lebih dalam lagi.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar