Malam yang indah... Malam minggu, ah, maksudku sabtu malam seperti ini memang paling menyenangkan hanyalah menulis. Ini mengingatkanku pada memori setahun yang lalu, saat di mana aku menulis di sini yang juga saat malam minggu. Tempatnya pun tidak jauh dari tempatku sekarang menulis. Kira-kira 200 meter menurutku.
Sekarang, mari membicarakan hal lain.
Kalian tahu, aku baru saja mengikuti kompetisi menulis se-Indonesia. Besar sekali harapan yang kusandarkan dalam kompetisi ini. Aku mengharapkan banyak hal dari segalanya. Lebih tepatnya, memimpikannya. Sepertin yang banyak orang ketahui, bermimpi adalah tindakan yang paling menyenangkan dalam hidup. Dan, gratis... #mentalmahasiswa Seperti yang dikatakan Arai dalam Sang Pemimpi, "Bermimpilah setinggi langit. Maka Tuhan akan memeluk mimpimu". Namun, untuk saat ini, Tuhan masih belum mewujudkan mimpiku, walaupun aku sangat yakin Tuhan telah memeluk mimpi yang kukaitkan di langit.
Ya, aku belum beruntung dalam kompetisi itu, Kawan. Walau pada awalnya aku sangat yakin. Baru kusadari, sainganku adalah ribuan penulis di Indonesia. Banyak sekali yang harus kukalahkan. Dan aku sadar, kekuatanku belum cukup untuk melawan mereka semua. Aku masih harus banyak berlatih.
Jatuh. Jalan seorang pemimpi tidaklah semulus dan selancar jaya jalan tol. Adakalanya dia harus jatuh untuk mengerti apa itu "bangkit". Dan aku merasakannya.
Aku terpukul dan sakit memang saat aku terjatuh dalam mimpiku. Namun di sinilah hal yang terpenting. Bagaimana aku harus bangkit setelah kejatuhan ini. Bagaimana aku memoles perasaanku dengan kebahagiaan saat terjembab. Tidak ada perbuatan yang sia-sia. Semuanya selalu memiliki alasan dan akibat. Aku bahagia saat jatuh. Karena aku akhirnya menyadari, banyak hal yang harus kuperbaiki. Jatuh bukanlah alasan untuk berhenti berlari.
"Masih banyak jalan, kawan. Kau bisa memilih dari ribuan jalan yang ada." ucap temanku saat kaceritakan semua ini.
Aku harus terus berdiri saat jatuh. Semangat untuk hidup harus terus menyala. Ada yang bilang, bahkan sebuah kerajaan yang nyaris runtuh sekalipun akan bangkit kembali jika memiliki seseorang dengan semangat hidup yang terus menyala dalam dadanya. Aku juga harus bahagia dalam kejatuhanku. Karena kebahagiaan hanya bisa diciptakan sendiri di dasar nurani. Jika kalian mencari kebahagian, maka kalian takkan pernah menemukannya.
Sebentar... Capek... *seruput kopi kapal tongkang*
Refresh dulu
*kretekin jari* Nah, mari lanjutkan.
Aku tidak akan berhenti di sini. Aku tahu, kejatuhan, kegetiran, kegelisahan, dan tentu saja kebahagian, adalah bagian dari kehidupan. Semua itu memang tidak bisa dihindari. Yang bisa dilakukan adalah menikmatinya, menikmati apapun yang ada, kemudian memanipulasinya menjadi kebahagiaan.
Aku tidak akan berhenti bermimpi di sini. Seperti yang dikatakana Pak Mustar juga dalam Sang Pemimpi, "Berhenti bermimpi adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia". Tentu saja, banyak hal yang harus kulakukan dalam mengejar mimpiku. Yang terpenting adalah, kita tahu tujuan kita. Saat kita tahu tujuan kita, maka kita harus menatap tajam tujuan itu. Jangan sekali-kali mengalihkan pandangan dari mimpi yang telah kau kaitkan. Jika kita sendiri tidak meyakini mimpi kita, bagaimana Tuhan akan memeluk mimpi yang terombang-ambing?
Ada banyak paradigma yang menggantung di dunia ini. Antara mengikuti arus, terus terombang-ambing di dalamnya, dan berharap akan menemukan apa yang diinginkan pada akhirnya. Atau melawan arus, memiliki prinsip yang kuat untuk bertarung demi mimpi, dan akhirnya terbayar dengan indah di ujung jalan sana. Tentu saja, hidup itu pilihan. Kitalah yang menentukan pilihan kita, lebih menyukai paradigma yang mana. Dan jujur saja, hidup hanya diam saja, hanya bisa mengikuti arus, dan tanpa melakukan apapun itu sangat membosankan.
Okeh, Kaum Puyenk, sampai bertemu di post selanjutnya.


yang jangan sampai terlupakan
BalasHapusselalu libatkan allah dalam setiap langkah kaki kita :-)
Pasti, gadis, itu pasti :)
HapusThank's udah mau mampir di sini.
Sering-sering ke sini yaaa :)
good... :)
BalasHapuskamu mampir juga lah, yah walau postingan ku tak sebagus bahasamu,hehe