Pertama, saya ingin pengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah mengembalikan leptop saya dari cengkraman service center. Yang kedua, kepada servis center yang dengan suka rela memperbaiki leptop saya tanpa harus saya bayar. Yang ketiga, kepada leptop saya yang telah bersedia menjadi media sebingga tulisan saya bisa dibaca pembaca. Yang keempat, kepada pembaca yang juga bersedia membaca pembukaan ini walau sebenarnya diskip juga tidak masalah.
Paragraf di atas hanyalah paragraf pembuka yang kubuat hanya untuk memperbanyak tulisan saja. Biasanya, kata-kata seperti itu akan kalian temukan dalam sambutan-sambutan yang disampaikan presiden sewaktu tidak terpilih menjadi presiden. Sepertiku misalnya. Ya, seperti di atas itu.
Eniwey, aku tidak menulis untuk beberapa waktu kemarin. Hal ini disebabkan kerena dioprasinya leptopku, sehingga aku merasa
YYEEAAAH NEYYMAAARRRR!!!!! Ah maaf, aku kegirangan melihat Neymar mencetak gol. Ya, aku menulis ini sambil menyaksikan pertandingan pembuka Piala Dunia 2014 antara Brasil melawan Kroasia. Maaf, sekali lagi maaf. Jadi, aku merasa memiliki hutang tentang tulisanku yang bersambung. Maka kali ini aku akan menulis tentang itu: Teatrikalisasi Puisi Bagian 2!
Seperti yang telah kusampaikan pada Teatrikalisasi Puisi Bagian 1, kelasku meraih juara pertama dan berhak tampil di Malam Pujangga 2014.
Pada prosesnya, kami memiliki waktu selama lima hari untuk mempersiapkan penampilan (menurut kami) prestisius ini. Berbagai macam hal kami pikirkan. Persiapan tampil, kostum, makanan,
Lanjut pada proses latihan malam itu.
Secara garis besar, puisi dan cerita yang kami bawakan tetap sama. Kami hanya menambahkan beberapa hal untuk memperpanjang durasi waktu yang disediakan panitia, yakni 25 menit. Untung saja waktu yang di sediakan hanya segitu. Karena aku khawatir waktu yang disediakan sampai 842 episode, mengalahkan sinetron Terjungsang dan Mbak Fitri Jatuh Cinta, dan aku harus mereview setiap episode di sini, juga harus meng-casting pemain-pemain, dan banyak lagi. Bisa dibayangkan betapa beratnya? Tidak. Karena itu hanyalah...
Masih ingat dengan salah satu anak hina yang dalam perannya melumuriku (seakan-akan) dengan darah (padahal itu adalah cat tembok)? Kalian tahu, betapa senangnya dia saat sadar dia akan menyiksaku lagi.
"Yes! Aku akan menjambak-jambak lagi rambut kapten! Yes! Yes!" katanya kegirangan dan dia tidak memperhatikan aku yang tengah mengasah gergaji untuk menggorok lehernya jika aku merasa terancam.
Pada kenyataannya, bukan hanya itu, kawan, penderitaanku. Bukan hanya nasibku yang harus menanggung tubuhku dilumuri cat tembok dan rambutku dijambak-jambak. Saat latihan malam hari itu, kami memasang adegan aku diseret oleh dua anak hina laki-laki. Masalahnya, aku diseret di atas paving layaknya tahanan korupsi daging kambing. Hasilnya, punggungku lecet dengan sukses. Aku menyembunyikan ini agar peranku tetap profesional, totalitas. Saat salah satu temanku mengetahui kondisiku, dan menghawatirkanku, aku bilang dengan cool,
Sementara anak hina yang perannya juga melumuriku dengan darah juga mendapat adegan di mana dia harus tertawa bahagia dan sinis, layaknya pemeran perempuan antagonis di film Wiro Sableng. Sayangnya, dia tidak bisa melakukan itu. Akhirnya aku melatihnya, memperlihatkan video perempuan jahat yang sedang tertawa.
Latihan dia tertawa pun dimulai...
"Ingat, tertawalah seperti video yang kuperlihatkan tadi." kataku padanya.
Dia mulai tertawa...
"Hahhahahahhhh"
"Kamu lebih mirip orang yang sesak nafas."
"Aku tidak bisa tertawa seperti itu."
"Coba lagi."
"Huahhahahaahhha."
"Sekarang malah mirip orang yang keselek lampu petromak."
"Terus gimana dong?"
"Emb, coba kamu jambak rambutku, lalu tertawa."
Dia langsung menjambak rambutku, dan tertawa, "Hahahahahaha."
Dia sukses tertawa seperti peran antagonis saat menjambak rambutku. Seperti itulah dia, betapa bahagianya dia saat menjambak rambutku.
Esoknya, hari penampilan kami di hadapan langsung penyair Indonesia Taufik Ismail tiba. Berbagai macam persiapan kami rasa sudah beres. Kami hanya perlu make up dan gladi bersih di tempat eksekusi, gedung sasana budaya. Tak lupa, beberapa hari sebelumnya kami sudah meminta teman-teman di kelas untuk menyaksikan penampilan yang sangat jarang bagi kelas kami ini.
Namun siapa sangka, ternyata ada salah satu persiapan yang luput dari pandangan kami, hingga membuat penampilan kami cukup fatal. Yakni, lampu sorot yang kami ginakan putus dan tidak bisa hidup untuk menyinari adegan siluet. Beberapa teman kami menyalahkan tidak adanya waktu bagi kami untuk gladi bersih. Selain itu, layar proyektor yang tidak dimatikan saat kami tampil, sehingga membuat pencahayaan juga terganggu. Dan yang membuat kami kecewa, yakni penyebutan nama kami, sebagai juara pertama lomba teatrikalisasi puisi, salah. Tentu saja penonton dari kelas kami, bahkan mungkin dari kelas lain, protes kepada MC.
Bagaimanapun, kami tetap tampil seperti yang telah kami skenariokan. Tak peduli apa yang terjadi, kami tetap fokus pada tugas kami, memerankan peran kami dengan sungguh-sungguh dan membuat kelas kami bangga.
Pesan moral: Jangan pedulikan apa yang terjadi. Tetap lakukan apa yang telah kau rencanakan sejak awal.
Nah, sekarang mari bagikan foto-fotonya
| Ini saat meditasi. Ingat! Meditasi! Bukan Mediumisasi.. |
| Proses eksekusi di atas panggung |
| Dia adalah LO kami. Namanya Nyda, kalo gak salah sih |
Selesai acara, kami foto bersama panitia acara.
Oke, Kaum Puyenk, cukup segitu saja yang bisa saya bagikan. Kurang lebihnya saya mohon maaf, karena saya hanyalah manusia biasa yang tak pernah lepas dari salah dan khilaf.
Dan akhirnya, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar