Itu kata-kata yang diucapakan Raditya Dika disalah satu talkshow-nya. Tempatnya di mana, aku nggak tau. Lagian, kalo pun aku bilangin sama kalian, Kaum Puyenk, kalian gak bakal ketemu sama Radit. Karna Radit sekarang ngejuri SUCA 2, dan katanya, sempet kesemsem gitu sama Arafah. Kok jadi ngegosip gini sih?
Jadi, kenapa postingan ini aku buka dengan kalimatnya Radit? Coba tebak.
*menunggu jawaban*
*masih menunggu jawaban*
*tetep nugguin jawaban*
Yak, waktu habis. Dan ternyata, gak ada yang baca tulisan ini. Ternyata gak ada yang peduli. Terserah, aku mau ngomong-ngomong sendiri! Mulut-mulutku juga!
So, aku buka sama kata-katanya Radit itu karena, kalo kalian sadar, bahasa yang aku pakek di postingan ini berubah, beda sama bahasa yang aku pakek di postingan sebelumnya. IYA, IYA, BAHASANYA SAMA. SAMA-SAMA BAHASA INDONESIANYA. Tapi yang aku maksud itu gayanya, gaes, GAYANYA! Ayolah yang cerdas! Kau udah pada gede... anunya wkwk. Buat kalian nih, ya, yang pikirannya nggak bener, pasti mikir yang nggak-nggak! Pantesan kalian suka nolak. #apasih
Jadi gini, kalo kalian ngikutin blogku dari awal, kalian bakal sadar di mana letak perbedaannya, perubahannya. Di awal-awal aku nulis dulu, aku pakek gaya bahasa kayak anak-anak Jabodetabek yang kode teleponnya 021 itu. Gue-lo gitu. Terus suatu ketika, ada temen yang negur gini, "Bahasa gue-lo itu bahasa suatu wilayah, bukan dengan pakek gue-lo kamu jadi keliatan gaul. Bukan." Dan emang bener, setelah aku belajar matakuliah Dialektologi, apa yang dia bilang bener. Akhirnya aku putusin ngerubah gaya bahasa, jadi agak kesastra-sastraan gitu, karna emang basicku anak sastra. Tapi lama-lama kalo aku rasain agak nggak nyaman juga bercerita di sini pakek bahasa yang begitu. Kaku-kaku gitu. Terkesan formal. Udah kayak orang lagi ucapara. Padahal nih ya, tujuanku nulis di sini itu bisa bikin orang terhibur sama tulisanku, dibaca sambil nyantai gitu. Masa iya, misalnya nih, abis pulang kerja, atau baru putus, pikiran lagi sumpek, terus baca tulisanku yang bahasanya kaku? Bukannya ngeredain sumpek, yang ada malah... tau ah. Ribet ngejelasinnya. Intinya, gaes, sekarang aku pengen nulis dengan lebih santai. Akunya lebih santai, yang baca juga jadi santai. Kayak ngomong biasa lah. Kayak ke pacar.
(emang punya pacar?) (emang punya pacar?) (emang punya pacar?) (emang punya pacar?) (emang punya pacar?) (emang punya pacar?) (emang punya pacar?) (emang punya pacar?)
Kalian nanya lagi aku santet nih!
Oke, gitulah pokoknya.
Jadi, di postingan kali ini aku pengen nyeritain hobiku yang (untuk sementara) aku tinggalin; naik gunung. Tapi, lebih khusus, tulisan ini bakal nyeritain sebuah misi yang aku lakuin tepat setahun yang lalu lebih tiga hari. Apa itu? Mengibarkan Bendera Pusaka di atas Puncak Ogal-Agil Gunung Arjuno di Hari Ulang Tahun Bangsa yang ke 70.
Aku mengemban misi ini bareng anak-anak Black Regent. Dari awal berangkat aja ada bau-bau ngeselin, sebenernya. Bayangin, aku nunggu mereka di depan Masjid Cheng Ho selama 2 jam! Dari jam 7 malem sampe jam 9! Itu kalo aja aku nunggu sampe lebih lama lagi, aku udah ada niat buat ngelamar jadi tukang adzan di masjid Cheng Ho.
Jadi ceritanya, aku yang dari Malang ketemuan di Pandaan sama anak-anak Black Regent yang dari Madura. Janjiannya jam 7. Karena aku orang yang selalu berusaha tepat waktu, aku berangkat dari Malang ke Pandaan setelah duhur. Kenapa habis duhur? Biar aku masih punya waktu ngamen di terminal. Mayan buat nambah buget sumbangan sama anak-anak. Akhirnya aku ngamen di bis pake tepuk tangan doang. Karena pake tepuk tangan, nggak ada orang yang terhibur. Mereka justru jadi kesel, aku dikroyok, aku jadi babak belur, dan aku nggak jadi naik gunung. Cerita tamat...
Nggak, nggak, aku becanda. Aku berangkat setelah duhur juga lebay. Aslinya, aku berangkat setelah maghrib dari Malang.
Intinya, jam tujuh aku udah berada di depan masjid Cheng Ho, lokasi pertemuan antara dua kelompok. Aku nunggu.. aku nunggu... Liat jam udah setengah 8. Aku tetep nunggu... tak lama, jam menunjukkan pukul 8 malam. Satu jam sudah berlalu. Nggak ada tanda-tanda kedatangan kawan-kawan dari Madura. Kucoba menghubungi mereka.
"Nyampe mana?" tanyaku lewat BBM.
"Santai, bray, masih makan di Porong," balas salah satu dari mereka.
Kampret! Aku udah nunggu sejam mereka malah nyantai!
"Sebentar lagi selesai dan langsung capcus jemput kamu." balasnya lagi.
Oke. Oke. Ini nggak masalah kalo sebentar lagi selesai. Akhirnya, aku bersedia menunggu lagi.
Aku menunggu lagi.. aku menunggu lagi.. masih menunggu.. udah jam setengah 9. Dan mereka belum datang juga. Kucoba menghibungi lagi.
"Kok lama?"
"Kami kesasar." kata mereka.
"Kesasar ke mana?" tanyaku.
"Ke hatimu~"
Waktu itu aku langsung banting hape. Nggak puas, aku lempar ke tengah jalan, biar hapeku dilindes truck. Masih nggak puas, aku sendiri yang ke tengah jalan, biar dilindes mobil mantan. Mati terserah. Saking keselnya.
Nggak kesel gimana coba, udah capek-capek nunggu malah dibecandain yang bikin baper. Jelas nggak mungkin kesasarnya ke hatiku. Hatiku udah tutup, gulung tikar, bangkrut. Nggak ada yang mau nempatin.
Yak kan, jadinya baper....T.T
Kemudian, setengah jam udah berlalu, yang dilalui dengan ngobrol sama trotoar dan kubah masjid. Artinya, udah jam 9. Akhirnya kabar itu datang: "Tunggu di pinggir jalan, bray. 5 menit lagi nyampe TKP,"
DARI TADI JUGA UDAH DI PINGGIR JALAN KAYAK ORANG BEGO!!!
Dan akhirnya, mobil mereka pun datang. FYI, mereka memakai mobil dinasnya provider welkomsel yang warna merah itu. Jadi waktu aku masuk ke mobil, aku ngerasa kalo kami ini sebenernya bukan mau naik gunung, tapi kami adalah sekumpulan sales yang dagangannya gak laku-laku hingga akhirnya frustasi dan berniat bunuh diri di gunung Arjuno.
Singkat cerita, pukul 10 malam kami sudah berada di Tretes, pendakian gunung Arjuno via jalur utara gunung. Di sini pun, kami masih ribet. Pertama, kami nyari cemilan buat perjalanan. Akhirnya kami memutuskan beli roti sari 7 truck. Bisa tahan di gunung selama tujuh minggu. Sekalian jadi manusia hutan.
Terus, aku nanya ke salah satu kawanku, "Kurang apa lagi nih?"
Temanku tampak lagi mikir. "Piring. Kita nyari piring. Sama sendok."
"Oke," kataku. "Sekalian sama kompor, lemari, kulkas, kursi.."
"Emang mau bangun rumah?!"
Akhirnya, setelah ngurusin persiapan sama tetek bengeknya, juga setelah berdoa bersama sebelum mendaki, kami pun mulai melangkahkan kaki dari pos perizinan jam setengah 12 malam. Targetnya, kami nyampe di pos 2, Kop-Kopan, sekitar jam 3, mengingat dari kami ada yang nafasnya udah nggak kayak dulu lagi. Ya, ngerti lah maksudnya.
Perjalanan gelap. Kami melewati jalan aspal yang landai. Kemudian kami menyalakan headlamp. Dan terlihatlah jalan di depan dengan penerangan headlamp: jalan menanjak sangat curam.
"Yak, sodara-sodara," kata temenku seperti sedang berkhotbah, "jalannya mulai naik. Maka, kuatkanlah tekad kalian. Jangan sampai jalan ini bikin kalian buang air besar di jalan, karena itu tidak baik dan mengganggu ketentraman pendaki."
Kami mengangguk paham dengan sangat meyakinkan.
Lalu, terdengar suara yang lain, "bentar, mau kencing dulu,"
Waktu dia lagi kencing, dia kami tinggalkan. Tak lama, terdengar teriakan dari belakang sambil lari terbirit-birit, "WOY, KAMPRET! GELAAP! AKU NGGAK BAWA SENTER!"
Begitulah.
Entah pukul berapa, aku lupa, akhirnya kita tiba di Pet Bocor, pos 1 gunung Arjuno via Tretes. Kami istirahat di sana selama beberapa lama. Di pos ini masih ada warung yang dibuat ngopi sama anak-anak pendaki. Di sana ada yang ngopi, ada yang ngecamp, ada yang main catur, ada yang bakar api unggun, ada yang bakar diri...
Setelah dirasa istirahatnya cukup, kami akhirnya berdiri dan bersiap melanjutkan perjalanan. Kami menggendong tas masing-masing, mengambil nafas untuk melangkah, dan mulai melangkah. Waktu dapet satu langkah, kami sadar ada salah satu teman kami yang masih duduk sambil mainin hapenya.
"Woy! Ayo berangkat!" kata temenku yang lain.
"Bentar, bentar. Masih war nih COC-ku."
"Astaga.. masih ngurusin COC.."
Temenku kesel. Dia balik, kemudian menyeret temenku yang masih war dengan menarik telinganya. Akhirnya, dia naik gunung dengan diseret telinganya.
Kami berjalan lagi. FYI, jumlah kami 8 orang. Jujur aja, jalan kami agak lambat. 5 menit jalan, istirahatnya 14 taon. Jadi, di tengah jalan, 5 orang dari kami yang jalannya lebih cepet berangkat duluan buat masang tenda di pos 3. 3 sisanya jalan belakangan. Salah satunya aku. Bukan. Bukan karena aku jalannya lambat. Aku cuma ingin menemani 2 orang ini. Aslinya, ya, kalo aku mau, aku bisa naik Arjuno 5 jam pergi-pulang. Kalo aku mau... berhubung karena aku nggak mau, ya, nyantai aja di belakang.
Dan, ya, kami bertiga nyantai. Jalan bentar, istirahat. Jalan bentar, istirahat. Hasilnya, waktu kami udah nyampe di pos 2 waktu subuh, tenda udah berdiri gagah, lengkap sama tivi dan kamar mandi dalem.
Pos 2 namanya Kop-kopan. Rencananya, kami tidur dulu. Jam 9 pagi, baru kami akan melanjutkan perjalanan ke pos 3. Jadi, semua temenku tidur waktu itu. Kecuali aku. Aku nggak tidur. Aku nungguin sunrise. Aku ini pemburu sunrise. Dan sumpah, teman-teman, sunrise Kop-kopan itu sunrise yang paling keren yang pernah aku lihat.
![]() |
| Ini sunrise Kop-kopan. Difoto pake Samsung Young 2 yang harganya 650 ribu. Asli. Tanpa filter atau editan. |
Lanjut.
Setelah makan, gulung tenda, dan mempersiapkan bekal air minum untuk perjalanan, kami melangkah lagi. Nah, di perjalanan kali ini, nih, di perjalanan kali ini....
Awalnya perjalanan aman-aman aja. Kami berjalan, kadang beriringan dengan pendaki lain. Semuanya aman. Kami bahkan menemukan porter gunung Arjuno yang luar biasa. Meskipun udah bapak-bapak tua, dia sanggup membawa naik 5-7 tas carrier, yang dia gantung pada sebilah bambu, kemudia dia pikul sambil mendaki dengan medan yang kayak di Arjuno. Luar biasa banget. Aku jadi miki, ini bapak-bapak mungkin bisa gotong rumahnya juga kali yak?
Dan karena kekuatan langkah dan nafas kami beda-beda, kami terpisah-pisah. Perlu kalian ketahui, teman-teman, jalur pendakian Arjuno via Tretes ini jalur paling berat menurut beberapa sumber. Bahkan, salah satu situs pendaki bilang gitu.
Kami terpisah, iya. Tapi jalur pendakian sangat jelas. Sehingga nggak bakal kesasar. Kalo pun ada yang kesasar, berarti dia goblok banget, dan gak pantes dijadiin pasangan di pelaminan. Karena ditakutkan nanti yang dia sanding itu ibu mantannya yang dulunya mantan dari mantannya. Bingung? Sama, aku juga.
Yang jadi masalah itu treknya. Berbatu parah. Kaki bener-bener diuji. Ada yang nggak kuat lewati jalur ini, pulang-pulang kakinya jadi pindah ke tangan, karena nggak mau dipake buat jalan lagi. Kapok. Karena treknya yang berat itu pula, salah satu dari kawan kami tumbang. Nggak kuat melanjutkan misi. Akhirnya dia menyerah, dan turun lagi ke pos perizinan.
Tapi misi mengibarkan bendera pusaka di atas puncak Ogal-Agil tetap harus dilaksanakan. Kami bertujuh tetap melanjutkan perjalanan. Terus berjuang melewati trek yang berat ini. Dan akhirnya, jam 3 sore kami tiba di pos 3: Pondhokan.
Di sini, kami beristirahat. Membangun tenda. Makan. Dan tidur. Harus! Sebab, jam 11 malam, kami akan melakukan perjalanan terakhir dalam misi ini, dan paling berat. Kenyataannya tidak demikian. Ada salah satu temenku isengnya udah kayak Komeng yang nggak ketulungan.
Jadi, waktu semuanya mau tidur, suasana udah senyap, temenku yang satu ini, entah karena motivasi apa, tiba-tiba aja langsung menjatuhkan diri dengan posisi horizontal di atas tubuh temen-temen yang lain kemudian guling-guling. Dan dia tertawa. Kurang ajar sekali emang.
Dan, yak, tibalah pejalanan terakhir itu. Kami berkemas di tengah hawa dingin yang sangat menusuk, berdoa, lalu mulai melangkah. Aku berada di baris terdepan.
You kow, Kaum Puyenk, gunung Arjuno adalah gunung yang dikenal sangat angker dan mistis. Selama perjalanan, kami cukup deg-degan. Ini gunung bukan sembarang gunung. Nggak boleh mencla-mencle sembarangan. Karna kalo berurusan sama makhluk astral perkaranya bakal runyam. Bukan kayak perkara di pengadilan yang kalo pakek duit urusan bakal kelar. Udah banyak cerita-cerita mistis yang dikisahkan para pendaki tentang gunung Arjuno. Apalagi kalo udah di Hutan Lali Jiwo. Itu bisa kesasar ke mana-mana. Kalo aku sih, kalo kesasarnya ke pelaminan nggak masalah.
Tapi kami terus melangkah. Di savana terakhir sebelum nge-trek sampe puncak, kami naruk barang-barang kami, dan hanya membawa perbekalan yang dirasa cukup. Kemudian, dimulailah perjalanan terberat itu...
Oke, aku bakal pake bahasa yang agak baku, biar agak keren dan feel-nya dapet.
Kami bertujuh melangkah setapak demi setapak dalam kegelapan hutan. Mendaki ke tempat yang lebih tinggi sedikit demi sedikit. Nafas tersengal, kaki yang pegel, keringet yang gak berhenti, adalah teman kami yang paling setia waktu itu. Kami minum dan minum lagi buat isi tenaga. Perjalanan yang sangat melelahkan. Tapi kami tetep fokus sama tujuan awal. Gak berhenti meski bahkan udah mau nyerah. Kami tetap mendaki lagi dan lagi. Menapaki jejak pada batu-batu, berpegangan pada ranting, atau melompati dahan dan akar yang melintang.
Aku masih inget betul gemuruh angin Arjuno yang mengerikan itu, seperti auman ratusan harimau yang bersembunyi di balik kegelapan. Belum lagi hawa dingin yang kami lawan mati-matian. Betapa rintangan untuk mencapai puncak bukan perkara sembarangan. Bahaya di mana-mana. Batu-batu cadas, pasir dan debu, ranting dan dahan yang licin. Dan tentu saja, kegelapan yang bisa saja membuat kami kehilangan arah. Selain itu, hal yang harus kami lawan adalah rasa lapar yang amat sangat. Dan ngantuk...
Pada akhirnya, setelah perjalanan selama kurang lebih 6 jam, kami berhasil berdiri di ketinggian 3.339 mdpl. Puncak Ogal-Agil gunung Arjuno, gunung tertinggi ketiga di Jawa Timur setelah Semeru dan Raung. Bendera bangsa, Merah-Putih, berhasil dikibarkan di hari ulang tahunnya yang ke 70, tepat ketika sunrise, ketika matahari terbit.
Ada kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri buat kami. Black Regent berhasil menjalankan misi, walau dengan banyak rintangan.
Setelah menjalankan misi, tepat pukul 7, kami turun dari puncak. Nah, waktu turun dari puncak ini, kawan, aku benar-benar merasakan kelaparan yang amat sangat. Selain betis yang udah ngilu di mana-mana. Rasanya kayak mau mati. Dan dari puncak ke savana tempat kami menyimpan barang-barang itu jauuuuuh. Waktu itu aku cuma berharap gak mati di tengah jalan. Mau makan dari dedaunan juga aku gak ngerti mana dedaunan yang bisa bikin kenyang dan gak membunuh. Kalo daun yang aku makan ternyata beracun, aku bakal pulang tinggal nama. Pokoknya laper, capek, kaki ngilu gak karuan. Sampe-sampe aku mikir minta mi instan ke pendaki lain. Tapi untungnya, aku mampu bertahan sampe savana. Pas nyampe, aku langsung memburu mi instan, remukin, dan makan dengan trengginas. Peduli setan bumbu dipasang atau nggak. Tapi sebenernya dipasang juga sih bumbunya...
Setelah istirahat di savana, kami berkemas. Persiapan buat turun. Dan kami turun sekitar pukul 11. Turunnya, kami ngejos. Jadi super saiya 4. Karena targetnya maghrib udah nyampe pos pendakian. Dan jujur aja, kakiku nggak kuat. Berkali-kali aku ngolesin balsem ke betis gara-gara ngilunya gak ketulungan. Aku beneran takut kakiku nggak bisa diajak jalan lagi. Lebih mengerikan lagi kalo ntar, gara-gara dipaksa terus berjalan, jadi jalan-jalan sendiri. Ngerii.
Tapi alhamdulillah, aku mampu sampe ke pos pendakian. Pas maghrib. Tanpa kenapa-kenapa. Dan misi selesai.
Selanjutnya, mari kita lihat perjalanan kami, Black Regent, dalam menjalankan ekspedisi ini.
Yang pengen aku ungkapin, itu adalah masa di mana aku menjadi penjelajah alam. Masa di mana aku menjadi diri sendiri yang paling 'aku'. Banyak yang bilang, kalo di gunung, manusia menjadi diri sendiri yang sebenar-benarnya. Hal-hal yang tersembunyi dari sifat manusia bakal keliatan. Mana yang egois, mana yang punya solidaritas tinggi, mana yang transgender, mana yang sebenernya makhluk astral..
Dari kegemaranku menjelajah alam dan naik gunung, aku belajar apa itu berjuang, apa itu fokus, apa itu tujuan, bagaimana mengontrol ego, dan solidaritas. Karena sesungguhnya, dari segala setiap sesuatu, ada pelajaran di sana. Orang bijak selalu belajar apapun yang terjadi kepadanya. Dia akan mengambil 'sesuatu' dari apa yang pernah dilakukannya.
Oh, ya, itu adalah masa-masa menyenangkan; menjelajah alam. Mungkin benar kata orang, segala sesuatu ada masanya. Sekarang, (untuk sementara) aku menghentikan kegemaranku yang satu ini. Well, saat ini aku cuma bisa mengenang semua itu. Aku nggak munafik betapa aku kangen berat menjelajah alam, belajar banyak hal lagi dan lagi. Tapi, seperti yang aku bilang, semua itu aku hentikan dulu (untuk sementara). Untuk satu alasan kuat. Berat memang. Tapi apa yang menjadi alasanku jauh lebih penting.
Dan orang bijak tahu mana yang terbaik buat dirinya--dan orang lain.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar