Okey, kali ini aku bakal bercerita proses skripsiku hingga sidang. Sebelumnya aku pernah nulis perihal skripsi di Perjuangan Seminar Proposal. Buat kalian yang nggak tau gimana prosesnya, silakan klik dan dibaca sendiri.
Kabar baiknya, buat adik-adik angkatan yang baik, kini program seminar proposal itu udah dihapus sama ketua jurusan yang baru. Terima kasih, Bapak Ketua Jurusan, Bapak telah menyelamatkan mahasiswa dari sebuah kesulitan. Kebaikan Bapak akan diingat sepanjang masa. Eniwey, Kaum Puyenk, aku rasa, aku orang terakhir yang menjalankan seminar proposal—kalo aku nggak keliru. Kabar ini menyenangkan sekaligus kampret sebenernya, Menyenangkan karena mahasiswa ga perlu lagi repot-repot harus seminar proposal, nyiapin makanan buat dosen penguji dan teman-teman yang hadir, teman-temannya nyiapin bunga dan cokelat, petugas jurusan ga perlu bikin surat segala macem, dan Pak Bambang atau Pak Yar ga perlu ngurusin mahasiswa yang mau pake ruangan. Intinya, keputusan ketua jurusan ini menguntungkan banyak pihak. Dan kampretnya, KENAPA KEPUTUSAN ITU TURUN WAKTU AKU UDAH SEMINAR PROPOSAL? KENAPA KEMUDAHAN ITU DATANG BUAT TEMAN-TEMAN WAKTU AKU UDAH SUSAH-SUSAH BUAT SEMINAR PROPOSAL YANG SAMPE BIKIN AKU FRUSTASI?
Oke, biar keliatan bijak, aku beruntung bisa ngerasaan kesusahan itu daripada teman-teman yang ga ngejalanin seminar proposal. Karena orang menjadi lebih kuat setelah mengalami kesusahan. #tsaah
Lanjut.
I need you to know, gaes, proses skripsi itu bukan perkara mudah, aku ungkapin. Ada perjuangan dan pengorbanan di sana. Tapi nggak cuma itu doang. Ada motivasi, niat, dan tekad yang harus benar-benar kuat dan ga bisa diutak-atik lagi. Harus setel. Itu yang aku lakuin. Banyak temen yang nanya, "Kok bisa sih kamu nulis skripsi sampe getol gitu?" atau "Waktu kamu memutuskan meng-karantina diri kamu sendiri, itu gimana caranya biar bisa konsisten?" Well, seperti yang aku bilang, harus ada motivasi yang kuat, gaes. Niat aja ga cukup. Harus ada tekad dan ALASAN. Alasan kenapa aku harus selesai secepatnya? Dan tugas kita adalah menemukan alasan itu, dan harus kuat! Kalo alasannya ga cukup kuat, itu ga bakal cukup buat memotivasi diri kita sendiri. Dan aku rasa aku ga perlu ngasik tau apa alasanku dibalik gigihnya aku menyelesaikan skripsi secepatnya sampe meng-karantina diri segala. Di sini, aku hanya bercerita prosesnya aja.
Jadi, kegetolanku dimulai dari bulan Agustus lalu, setelah lebaran dan aku kembali ke Malang. Waktu itu aku sedang memproses transkrip data. Waktu proses itu juga, aku belum meng-karantina diriku. Aku masih suka keluar, ngopidan dugem. Aku ngerjainnya kalo lagi di kosan. Paling tidak, aku punya jadwal khusus ngerjain, pukul 9 malam ke atas, itu kalo aku nggak ngopi. Ada masa di mana aku ngopi sama temenku yang juga seorang pejuang skripsi.
"Jadi, gimana skripsimu?" tanya dia.
"Aku lagi transkrip data." jawabku. "Aku penasaran, dengan aku ngebut gini, sejauh mana hasil yang aku dapatkan di akhir bulan ini,"
Oh iya, gaes, ini nih, aku baru inget. Buat kalian nih yang lagi garap skripsi, kalo misalnya kalian nggak punya alasan untuk memotivasi diri sendiri tapi kalian pengen skripsi kalian cepet selesai—padahal aku sendiri selesainya telat sampe 9 semester hahaha. Nggak, maksudku, kalo kalian pengen prosesnya cepet dan kalian ga punya alasan untuk memotivasi diri sendiri, ada satu trik yang aku temuin buat kita memotivasi diri. Ya, PENASARAN. Bahasa kerennya KEPO. Tau kan gimana orang kalo udah kepo? Mereka itu secara ga sadar NGELAKUIN SEGALA MACEM buat memuaskan hasrat keingintahuannya. Aku yakin kalian pernah kepoin sesuatu dan kalian berusaha mencari tahu apa yang bikin kalian penasaran itu. Jadi, kalo sulit memotivasi diri, gunakan rasa penasaranmu sama hasil yang bakal kamu dapatkan sebagai motivasi dalam tenggat waktu tertentu. Misalnya seminggu, sebulan, setaun, atau seabad, Terserah. Yang penting harus menanamkan pertanyaan; kira-kira seberapa jauh ya hasil yang aku dapatkan dalam sebulan ini? Aku penasaran. Nah, dengan rasa penasaran itu, kita bakal berusaha menghasilkan sebanyak mungkin! Serius. Itu yang aku lakuin. Karena rasa penasaran itu, aku termotivasi untuk mendapatkan hasil sejauh mungkin. Inget, rasa penasaran atau kepo itu bikin kita ngelakuin segala macem. Artinya, gimana pun caranya hasilku harus jauh. Dan kalo kita sadar hasil kita jauh, itu puas banget. Kalian juga perlu menambahkan target kalo bisa. "Oh, targetku dalam dua minggu ini harus begini, begini. Aku penasaran apa aku bisa mencapai target itu." Itu akan lebih bagus, gaes. Makanya, jangan cuma ngepoin dia yang udah bersama orang lain lah~
Jadi, kegetolanku dimulai dari bulan Agustus lalu, setelah lebaran dan aku kembali ke Malang. Waktu itu aku sedang memproses transkrip data. Waktu proses itu juga, aku belum meng-karantina diriku. Aku masih suka keluar, ngopi
"Jadi, gimana skripsimu?" tanya dia.
"Aku lagi transkrip data." jawabku. "Aku penasaran, dengan aku ngebut gini, sejauh mana hasil yang aku dapatkan di akhir bulan ini,"
Oh iya, gaes, ini nih, aku baru inget. Buat kalian nih yang lagi garap skripsi, kalo misalnya kalian nggak punya alasan untuk memotivasi diri sendiri tapi kalian pengen skripsi kalian cepet selesai—padahal aku sendiri selesainya telat sampe 9 semester hahaha. Nggak, maksudku, kalo kalian pengen prosesnya cepet dan kalian ga punya alasan untuk memotivasi diri sendiri, ada satu trik yang aku temuin buat kita memotivasi diri. Ya, PENASARAN. Bahasa kerennya KEPO. Tau kan gimana orang kalo udah kepo? Mereka itu secara ga sadar NGELAKUIN SEGALA MACEM buat memuaskan hasrat keingintahuannya. Aku yakin kalian pernah kepoin sesuatu dan kalian berusaha mencari tahu apa yang bikin kalian penasaran itu. Jadi, kalo sulit memotivasi diri, gunakan rasa penasaranmu sama hasil yang bakal kamu dapatkan sebagai motivasi dalam tenggat waktu tertentu. Misalnya seminggu, sebulan, setaun, atau seabad, Terserah. Yang penting harus menanamkan pertanyaan; kira-kira seberapa jauh ya hasil yang aku dapatkan dalam sebulan ini? Aku penasaran. Nah, dengan rasa penasaran itu, kita bakal berusaha menghasilkan sebanyak mungkin! Serius. Itu yang aku lakuin. Karena rasa penasaran itu, aku termotivasi untuk mendapatkan hasil sejauh mungkin. Inget, rasa penasaran atau kepo itu bikin kita ngelakuin segala macem. Artinya, gimana pun caranya hasilku harus jauh. Dan kalo kita sadar hasil kita jauh, itu puas banget. Kalian juga perlu menambahkan target kalo bisa. "Oh, targetku dalam dua minggu ini harus begini, begini. Aku penasaran apa aku bisa mencapai target itu." Itu akan lebih bagus, gaes. Makanya, jangan cuma ngepoin dia yang udah bersama orang lain lah~
Kembali ke proses skripsiku. Jadi, pada akhirnya di akhir bulan Agustus itu aku berhasil mencapai transkrip data 4 episode—dan itu buanyak banget dan sulit. Aku harus menulis dialog, ekspresi aktornya, juga konteksnya sampe 46 halaman font ukuran 10, klasifikasi data tiap rumusan masalah—dan itu juga banyak banget, tabel analisis data rumusan masalah 1, 2, dan 3—masing 20, 12, dan 12 halaman. Dari mana kekuatanku kok bisa dapet segitu banyak? Ya dari rasa penasaranku terhadap hasil yang aku capai di akhir bulan tadi—tentu saja juga alasan kenapa aku harus cepat selesai. Dan ada satu hal lagi yang jadi motivasiku. Ntar aku kasih tau. Sekarang lanjut dulu.
Memasuki bulan September.
Nah, dari sini ini aku mulai meng-karantina-kan diri. Aku fokus dan fokus. Jarang banget keluar kamar. Keluar kamar cuma untuk ke kamar mandi, makan, dan kunjungan dinas sebentar ke kamar tetangga kalo otak kerasa capek. Kalo sebelumnya aku punya jadwal khusus ngerjain jam 9 malem ke atas, mulai awal September itu udah nggak berlaku. Yang berlaku adalah tiap waktu aku ngerjain. Jadi, pola hidupku itu ngerjain, ngerjain, buang air, ngerjain, mandi, sholat, ngerjain, makan, ngerjain, ngerjain, tidur, bangun, ngerjain, ngerjain. Istirahat dilakukan kalo tubuh udah nggak kuat lagi, maka aku istirahat. Bangun-bangun langsung nyalain laptop lagi. Pokoknya fokus, fokus, dan fokus. Kalo pun ada hal yang bikin aku harus ninggalin laptop—misalnya keluar ke mana gitu, sebelum laptop mati aku harus tau apa yang bakal aku tulis kalo udah balik ke depan laptop lagi ntar. Dengan gitu, ga bakal macet alias tetep jalan. Alright? Yeah.
Bulan September awal ini aku udah tinggal nulis Bab II dan seterusnya sampe selesai. Bab II di skripsiku ini udah masuk ke fokus permasalahan satu. Kadang-kadang aku juga bertanya-tanya sih, kenapa juga kita harus cari-cari masalah (perkara) biar bisa lulus? Dan itu nggak cukup satu! Minimal harus cari 2 perkara, Men! Aku aja nih ya, ketahuan satu perkara ama polisi aja udah ketar-ketir. Padahal itu juga karena ga bawa SIM. (apaan sih kok pake nyambung kemari segala)

😁 Oke, kalo emang tujuannya buat menguji apakah kita cukup pantas disebut sarjana atau tidak, bisa lah diterima. Tapi kalo kalian perhatikan, seharusnya yang namanya permasalahan itu kan harus ada solusi? Nah itu nggak ada solusi. Yang ada itu kesimpulan. Jadi permasalahan itu diteliti, dianalisis, lalu disimpulkan. Udah, gitu aja. Nggak ada solusi.
Becanda, wahai Bapak Dosen yang terhormat, tulisan ini cuma becanda, jangan diambil serius 
Oke lanjut ke proses skripsiku. Jadi, mulai awal September itu aku mulai nulis Bab II. Karena waktu identifikasi data udah aku catet data-data sesuai dengan rumusan masalahnya sekaligus nganalisisnya di dalam otak, maka di sini aku tinggal menjabarkannya aja. Waktu yang aku capai selama penulisan dari Bab II sampe skripsiku rampung itu cuma satu minggu! Serius. Itu karena aku meng-mengkarantina-kan diri di kamar. Getol. Ngga bisa diganggu gugat. Dan, ya, dalam waktu seminggu, akhirnya skripsiku rampung. Tapi teman-teman, ada perjuangan yang amat sangat dalam satu minggu itu. Ga jarang tubuh dan mata kerasa capek banget sampe panas. Belum lagi otak yang terus dipaksa bekerja selama itu. Semua itu ga bakal bisa dilakuin kalo kita ga ada motivasi, niat, dan tekad yang harus benar-benar kuat dan ga bisa diutak-atik lagi. Fokus, fokus, dan fokus.
Eniwey, teman-teman, selain niat dan tekad yang emang ga bisa diutak-atik lagi, ada satu hal lagi yang bikin aku termotivasi biar cepet ngelarin skripsi. Apa itu? Mari kita baca kutipan ucapan terima kasih yang aku tulis berikut berikut:
Yak, Tul. Ada satu orang yang bikin aku termotivasi buat cepet ngerampungin skripsi. Orang itu teman-teman, adalah orang yang dengan percaya diri bakal jadi cowok pertama di kelas yang bakal sidang. Karena ini lah aku termotivasi buat menikungnya. Aku pengen dia gigit jari dan ga jadi cowok pertama yang bakal sidang. Menyadari dia terancam ditikung, dia ngelakuin berbagai cara. Misalnya gini:
Waktu itu sore hari, sekitar jam 3an, dan aku diajak makan di Mak Par. Dia posisisnya masih di kandangnya. Tapi, biarpun begitu, dia nyuruh temen yang lain buat nge-BBM aku supaya cepet keluar dari kos. Sederhananya, pikiranku gini, "Oh, si Bagas udah di bawah, di depan kosan." Oke, aku turun, dan aku ga nemuin dia. Ternyata, dia baru jalan dari rumahnya yang jauh di benua ostrali sana. Dan laptop udah aku matiin. Aku yang mau ngidupin laptop lagi juga udah males. Tapi nugguin dia jalan dari rumahnya juga sama aja dengan waktu yang dicapai kereta api dalam perjalanannya dari Sabang sampe Merauke. Akhirnya, aku terpaksa nungguin dia di depan kos. Pinter banget emang strateginya.
Pada waktu lain, dia sering ngajak aku makan di luar malem-malem. Dia mau bayarin. Dia pikir, dengan ngajak aku makan, aku bakal kekenyangan dan jadi ngantuk, terus tidur, sampe akhirnya ga ngerjain skripsi. Sorry, brader, taktikmu tidak cukup canggih buat bikin niat dan tekadku berantakan. Justru karena almukarrom ini, aku semakin termotivasi buat cepet nyelesain skripsi. Dan, ya, terima kasih untuk makan malam gratisannya.
Tiap kami selesai makan dan aku balik ke kos, sebelum dia pergi, aku selalu bilang gini, "malam ini ngerampungin bab 3. Besok bab 4 dan penutup. Lusa udah bisa daftar uji kelayakan."
Dia cuma bilang satu kata: tellek.
Yah, begitulah, kalo niat dan tekad udah ga bisa diutak-atik, gimana pun gangguannya, ga bakal bikin fokus teralih. Justru, hal-hal yang mengganggu kadang bikin kita jadi makin termotivasi dan fokus. Waw banget kan? Haha.
Lanjut.
Yap, setelah seminggu ngerjain kayak orang kesetanan, tiba waktunya daftar buat uji kelayakan naskah. Di sini, aku bakal tau siapa pengujiku di sidang nanti. Waktu aku ke ruang jurusan buat daftar, secara kebetulan di sana ada dosen pembimbingku. Entah ilham apa yang tiba-tiba menghinggapi kepala beliau, tiba-tiba aja beliau request ke orang jurusan kalo pengujiku dosen tertentu. Biasanya, yang nentuin dosen penguji itu kan ketua jurusan. Lha ini beliau dengan santainya nentuin sendiri siapa dosen pengujiku. Tapi aku berterima kasih banget sama beliau, sebenernya. Semuanya jadi semakin mudah. Uji kelayakanku aja cuma 10 menit, karena dosen pengujiku emang nyantai banget. Biasanya, uji kelayakan itu sampe berhari-hari. Bahkan konon katanya ada mahasiswa sewaktu uji kelayakan, naskahnya dibawa sama dosen selama 9 bulan. Pulang-pulang naskahnya udah punya anak.
FYI teman-teman, biasanya orang jurusan akan memproses surat tugas untuk dosen penguji kalo minimal udah ada 5 mahasiswa yang daftar uji kelayakan. Tau hal itu, aku membatin, "aduh, mampus nih. Berarti aku harus nunggu orang lain nih. Bisa-bisa ga jadi nikung." Pikiranku waktu itu, gaes, bulan September ini bulan awal-awal perkuliahan. Sementara, biasanya banyak orang daftar sidang itu di akhir-akhir perkuliahan. Nunggu selama itu, bisa-bisa materi di kepalaku udah ganti, udah bukan pragmatik lagi, dan malah ganti materi-materi psikopat. Nah, karena itu, buat kalian yang mau daftar sidang dan ternyata kalian daftar sendirian dan ga ada orang lain, nih aku kasih tips: Kalian harus sering-sering ke ruang jurusan dan tanyain apa surat tugasnya udah keluar apa belum. Sehari 4 kali atau 10 kali. Terserah. Yang penting kalian bikin orang jurusan jengkel dan ga tahan, sampe akhirnya mereka mau ngeluarin surat tugas meskipun kalian sendirian. Itu tips dari aku. Tapi sebenernya aku ga gitu-gitu amat, takut di delet dari jurusan sastra sama orang jurusan. Batal lulus ntar jadinya.
Dan, yak, jadwal sidang pun keluar.
Permasalahan yang amat umum di jurusanku adalah jadwal sidang nggak selalu sesuai sama jadwal kosong dewan penguji. Jadi, biasanya, mahasiswa di jurusanku bikin jadwal sendiri. Sebenernya surat tugas itu pun kayaknya cuma formalitas aja sih, toh ujung-ujungnya kita sendiri yang koordinasi dengan dosen penguji kapan waktu yang pas buat melaksanakan sidang skripsi. Daaaaaan koordinasi dengan dosen ini bukan perkara mudah, gaes, aku bilang. Jadi ceritanya gini:
[via sms]
SMSku ke dewan penguji 1: Assalamuailkum, Pak. Saya Moh. Arief Rohman Hakim, mahasiswa skripsi yang akan Bapak uji. Maaf, Pak, berdasarkan Surat Tugas yang telah dikeluarkan oleh Ketua Jurusan Sastra Indonesia, jadwal sidang saya ditetapkan pada hari Rabu, 28 September 2016, pukul 08.00-09.00 WIB di ruang Penjaminan Mutu. Apakah Bapak bisa hadir pada hari tersebut untuk menguji skripsi saya?
Terima kasih.
Balasan dari dewan penguji 1: Saya bisa mulai pukul 12.00. Saya mengajar dari pagi hingga siang.
Yak, mulai tercium bau-bau masalah.
Oke, aku kabarkan ini kepada dosen pembimbingku, dalam hal ini dewan penguji 2. Dan kalian tahu apa tanggapan beliau? Ini: Saya hari rabu kemungkinan tidak bisa. Lebih baik hari jumat saja.
Hal ini kemudian aku kabarkan kepada dewan penguji 1. Begini balasan beliau: hari kamis sampai minggu saya ada tugas luar kota.
Yo yo yo yo! Ribet, Men! Ribet!
Oke, hal ini pun kemudian aku kabarkan ke dosen pembimbingku. Dan untungnya, beliau secara meyakinkan akan hadir di hari rabu siang terebut. Hingga kemudian, kabar lain datang dari dewan penguji 3: Sidangnya hari apa, Mas? Saya baru pulang dari Bandung hari rabu.
Mampus! BUNUH SAJA SAYA BUNUH!
Bisa njimet gini sih? Satunya bisa, satunya ga bisa. Giliran satunya bisa, satunya malah ga bisa. FYI aja, gaes, ada beberapa dosen yang ga mau melaksanakan sidang kalo dewan pengujinya nggak lengkap. Kalo pun tetep dilaksanakan meski dewan penguji nggak lengkap, si mahasiswa nista ini sidangnya harus ngecer, nyicil macam sales keliling.
Tapi untungnya, setelah aku tanya lagi ke dewan penguji 3 apakah kira-kira bisa hadir, beliau bilang Insya Allah bisa. Oke siap, sidangku jadi hari rabu. Masalah (tampaknya) beres.
Hari senin dan selasa, aku santai-santai aja, dan yakin kalo sidangku hari rabu. Sampe akhirnya hari rabu pagi itu datang. Dengan maksud mengingatkan dewan penguji bahwa hari itu aku bakal sidang, datanglah pesan singkat dari dewan penguji 1 yang bikin keringat dingin mengucur: Lho, kok saya belum diberi naskahnya? Bagaimana saya dapat menguji?
Mampus! Aku ga tau kalo sebelum hari H aku harus nyerahin dulu naskah skripsiku ke dewan penguji. Aku beneran ga tau. Aku juga dimarahin sama pembimbing (via WA) gara-gara ga nyerahin naskahku ke dewan penguji. Serius aku ga tau. Hari itu juga, pagi-pagi, aku berangkat ke kampus buat nyerahin naskah, berusaha menemui dewan penguji. Sampe-sampe aku yang harusnya pake spatu pantofel malah make spatu casual. Atasan udah pake kemaja, jas, celana macam orang pergi ke kantor, dan...diakhiri dengan sapatu casual. Saking paniknya. 3 jam setengah aku nunggu tanpa kepastian, clingak-clinguk ga jelas, sampe kepastian itu datang dari dewan penguji: Sidangnya ditunda minggu depan saja.
Iya, sidangku hari itu batal gara-gara kecerobohanku ga nyari informasi sedetail-detainya gimana prosesnya orang sidang. Itu bener-bener pelajaran buat aku—dan mungkin juga buat kalian semua yang bakal sidang. Hari itu, aku terpaksa melepas jas almamaterku. Aku biarkan penampilanku hanya mengenakan kemeja putih yang ga dikancing, celana hitam yang tampak terlalu besar, dan sepatu casual dengan noda di ujungnya. Hari itu, aku pulang sore hari, setelah menyerahkan naskah skripsiku kepada dewan penguji, tepat sebelum hujan turun. Kemudian aku tidur, mencoba melupakan hari kecerobohanku itu.
Kemudian, aku berkoordinasi lagi dengan ketiga dewan penguji kapan waktu pelaksanaan sidangku di minggu depan. Akhirnya ditetapkan pada hari senin, 3 Oktober 2016.
Senin, 3 oktober 2016, akhirnya aku benar-benar sidang di depan 3 penguji, mempertanggungjawabkan penelitian yang udah aku lakukan.
Sebelumnya di awal tulisan ini aku udah bilang, dalam memproses skripsi ada pengorbanan. Sejujurnya, demi kelarnya skripsiku ini sampe aku sidang, aku rela mengorbankan sesuatu, yang aku rasa, hanya terjadi sekali saja. Ya, ada 3 pernikahan di kampung halamanku yang dengan sangat terpaksa aku tidak hadir. Pertama, pernikahan sepupuku sendiri.
Ya, mereka adalah keluargaku. Semuanya ada. Cuma aku yang ga ada. Well, gaes, jujur aja menyesakkan dada melihat gambar ini. Serius. Aku benar-benar sedih melihat foto itu. Aku sedih karna aku ga ada di sana. Tapi itu terpaksa aku lakukan demi segeranya waktu kelulusanku. Bagiku, benar-benar harga yang sangat mahal untuk dibayar.
Dua pernikahan lainnya adalah pernikahan temanku, teman dari kecil sampe sekarang. Padahal, mereka berdua udah minta tolong ke aku supaya aku pulang, agar bisa ngumpul. Tapi, aku pun dengan terpaksa minta maaf nggak bisa pulang, karena pernikahan mereka berdua tanggal 24 dan 26 September. Waktu yang amat sangat mepet dengan jadwal sidangku yang pertama. Dengan terpaksa aku tetep di Malang dan ga pulang, walaupun itu sangat menyakitkan buatku, ga bisa ngumpul bareng.
Pengorbanan itu aku lakuin demi tanggal 3 Oktober itu, demi hari kelulusanku itu, hari yang mungkin sangat bersejarah buat aku. Jujur aja, di hari kelulusanku, aku mengharapkan hal-hal spesial yang mungkin sangat berkesan buatku, dan bikin aku ga bakal ngelupain hari itu sampe kapan pun. Tapi kadang-kadang kenyataan memang ga sesuai harapan, gaes. Harus aku akui, hari itu nggak ada yang spesial buatku. Hari itu sama aja kayak hari yang lain. Biasa aja. Ga ada yang spesial. Bedanya, hari itu aku memakai pakaian yang ga biasanya aku pakai; kemeja putih, dasi, jas almamater, celana formal, dan spatu pantofel. Waktu ada orang yang nanya ke aku, "kamu selesai sidang?", aku jawab, "Nggak, aku baru selesai ngajar di pasca sarjana." Karna memang, hari itu nggak ada sesuatu yang bikin aku merasa terkesan dan ini adalah hari spesial, momen yang pantas untuk dikenang dan ga dilupakan. Aku nggak mau munafik, aku juga mengharapkan hal-hal lebih di hari kelulusanku. Kenyataan ini kemudian bikin aku paham kenapa dulu ada seorang teman yang pengen banget ada hal-hal meriah di hari kelulusannya. Pada akhirnya waktu selalu menjawab hal-hal yang ga kita tau. Sekarang aku tau gimana rasanya tidak adanya hal itu. Hari itu aku pulang sebagaimana aku pulang sewaktu sidangku batal di hari Rabu. Satu-satunya hal yang bikin aku tau bahwa hari itu adalah hari kelulusanku adalah foto ini:
Aku mau ngucapin makasi banget sama yang motoin, yang sempet bikin aku kaget waktu aku keluar dari ruang sidang. Keberadaannya hari itu sungguh sangat berarti buat aku.
Well, yeah, kadang-kadang kita seolah ga bisa menerima keadaan yang ada, kenyataan yang ga sesuai dengan apa yang kita harapkan. Tapi mau ga mau kita harus berbesar hati menerima segalanya. Bahagia, atau merana, kita harus tetap berbesar hati. Berbesar hati ga jauh beda dengan berkorban. Berkorban ga terlibat dalam suatu momen langka dan mungkin hanya terjadi sekali, demi momen langka yang lain. Walaupun, pada akhirnya, momen itu ternyata biasa aja, ga ada yang spesial. Memang, momen itu—apalagi yang sangat langka dan hanya terjadi sekali—sangat mahal harganya. Itulah kenapa waktu kita ga menjadi bagian dari momen itu, atau momen itu berlalu gitu aja tanpa hal-hal spesial, menjadi terasa sangat menyakitkan.
Eniwey, aku bersyukur sekarang aku udah lulus, udah punya gelar sarjana—walaupun jarang banget aku inget kalo udah sarjana. Aku mau ngucapin terima kasih buat semuanya, buat orang-orang yang selalu mendoakan aku, buat orang-orang yang terus berada di sampingku, dan buat orang-orang yang hadir di hari kelulusanku. Makasi banget kalian udah meluangkan waktu dan repot-repot datang. Hal itu sangat berarti buatku. Aku merasa sangat beruntung memiliki orang-orang dengan solidaritas keren seperti kalian. Terima kasih. Keempat jempol di foto itu buat kalian.
Salam Kepala Memutar.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar