Rabu, 04 November 2015

Ulang Tahun, atau Hari Kemerdekaan, atau Hari Jadi, atau Disnatalis, atau Apapun Sesukamu

Orang yang tidak gila, aku yakin seyakin-yakinnya Yakin anak bapaknya yakin, pasti ingat dengan tanggal tulang tahunnya, tanggal hari kemerdekaan dirinya, tanggal disnatalisnya, atau apapun yang diistilahkan orang-orang. Mereka pasti tahu tanggal berapa, bulan apa, tahun berapa, pertama kali menghirup udara dunia, meski bukan berarti ketika mereka baru lahir langsung mencatatnya sendiri tanggal kelahirannya. Aku rasa cukup seram jika kita membayangkan seorang bayi yang baru lahir, tiba-tiba saja ia bersuara cempreng, "Dok, bawakan saya sebongkah batu, palu, dan paku. Saya akan mencatat hari kelahiran saya ini sebagai prasasti." Padahal saat itu tim dokter persalinan tengah sibuk memotong tali pusarnnya. Maka seorang dokter memberinya sebuah pisau. Karena tidak ada batu, paku, dan palu, si bayi mencatat hari kelahirannya di tubuhnya sendiri dengan pisau, agar terlihat seperti tato abadi, dan keren. Tetapi itu menyeramkan. Sepakat?

Senin, 26 Oktober 2015

Teruntuk Engkau, Para Pelaku Sastra dan Budaya

Belakangan aku menyukai diskusi atau acara-acara tentang sastra atau kebudayaan. Dari sana, aku bisa belajar seperti apa kehidupan orang-orang di sekitarku, membicarakan isu-isu kekinian yang sedang hangat di tengah masyarakat, atau melihat hal-hal tradisonal yang mulai hilang. Kadang aku bertanya-tanya, kenapa aku tiba-tiba menyukai hal-hal semacam ini; beraktivitas dalam lingkungan sastra, membaca puisi, menghadiri diskusi-diskusi atau acara sastra atau kebudayaan, memerhatikan apa yang terjadi, kemudian menulisnya dalam sebuah cerita. Barangkali semua ini karena aku sedang menempuh kuliah bahasa dan sastra Indonesia. Mungkin jika aku kuliah jurusan teknik mesin, aku pasti menyukai oli samping, baut dan mur, juga trek-trekan di jalanan sambil membonceng cabe-cabean. Oke, kita berhenti di sini saja pembahasannya, karena aku tahu, pembahasan tentang cabe-cabean pasti sangat panjang. Ada cabe bawang, cabe kecap, cabe tomat, cabe terasi, dan banyak lagi macamnya. Bisa kalian bayangkan betapa panjangnya jika kujelaskan satu persatu? Jadi, marilah kita skip bagian ini.

Biasanya, acara-acara diskusi yang kuhadiri adalah acara tanpa harus membayar tiket masuk. Kalian tahu kan maksudku? Gratis. G R A H T E S. Jika aku diajak ke acara sastra atau kebudayaan, ada dua pertanyaan yang harus terjawab dengan jelas.

Kamis, 03 September 2015

Tulisan dengan Judul 'Semoga Ini Bukan Tulisan Terakhir di Blog Ini'

Bismillahirrohmanirrohim..

Tulisan ini ditulis dengan rasa panik yang mencekam, Kawan, karena aku baru tahu jika masuk ke akun blogger sudah tidak dapat menggunakan email Yahoo! Aku panik bukan kepalang! Bagaimana tidak panik, aku tidak bisa lagi masuk ke akun blogger dengan email Yahoo! karena blogger sudah berpindah tangan ke Google. Aku mencoba masuk menggunakan akun Yahoo! walau URL dan halaman blogger jelas-jelas menampilkan akun Google. Ini pemaksaan. Sesuatu yang tidak cocok yang dipaksa untuk disatukan. Aku merasa seperti laki-laki yang memaksa masuk ke toilet wanita. Ibaratnya begini:

Aku berjalan santai di sebuah mall sendirian. Lalu, tiba-tiba aku ingin buang air. Aku segera mencari toilet terdekat karena barang di perutku sudah siap meledak dan dapat menghancurkan satu mall. Tentu keselamatan ummat manusia nomor satu bagiku! Kemudian, aku menemukan toilet terdekat, dijaga oleh seorang satpam, bukan penjaga toilet, karena mall ini adalah mall bagi kalangan kelas atas. Aku menuju toilet pria. Sialnya, semua bilik toilet pria terpakai. Sementara barang berharga di perutku semakin menteror, dan keselamatan orang-orang satu mall terancam. Aku memutuskan pergi ke toilet wanita. Dan seperti inilah pemaksaan itu..

Jumat, 13 Juni 2014

Teatrikalisasi Puisi Bagian 2

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Pertama, saya ingin pengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah mengembalikan leptop saya dari cengkraman service center. Yang kedua, kepada servis center yang dengan suka rela memperbaiki leptop saya tanpa harus saya bayar. Yang ketiga, kepada leptop saya yang telah bersedia menjadi media sebingga tulisan saya bisa dibaca pembaca. Yang keempat, kepada pembaca yang juga bersedia membaca pembukaan ini walau sebenarnya diskip juga tidak masalah.

Paragraf di atas hanyalah paragraf pembuka yang kubuat hanya untuk memperbanyak tulisan saja. Biasanya, kata-kata seperti itu akan kalian temukan dalam sambutan-sambutan yang disampaikan presiden sewaktu tidak terpilih menjadi presiden. Sepertiku misalnya. Ya, seperti di atas itu.

Eniwey, aku tidak menulis untuk beberapa waktu kemarin. Hal ini disebabkan kerena dioprasinya leptopku, sehingga aku merasa

Senin, 21 April 2014

Teatrikalisasi Puisi Bagian 1

Oke, sebagai pembuka post kali ini, aku ingin memberitakan jika aku sudah menyatu kembali dengan jiwaku yang entah kenapa keluar tanpa permisi itu. Jadi, ceritanya aku memaksanya masuk kembali ke tubuhku melalui lubang hidung dan menyegelnya agar tak mampu berkeliaran lagi. Dan kupikir tak penting aku membicarakannya panjang lebar. Kita langsung saja ke topik.

Sebagai seorang mahasiswa jurusan Sastra Indonesia dan calon penyair, sastrawan, juga penulis novel terkenal (mohon buat yang baca di-Aamiin-kan), duniaku berada di antara dunia sastra. Di jurusanku ini, aku mempelajari segala macam tetek-bengek tentang sastra. Mulai dari teorinya, sejarah, apresiasi, kritik, menulis, membaca, menghafal, memahami, dan banyak lagi. Yang tidak diajari hanyalah melupakan, iya melupakan kamu tidak pernah diajari di dunia pendidikan.

Baru-baru ini aku melakukan salah satu aktivitas sastra.

Minggu, 13 April 2014

Ini Tulisan Tentang Sahabat yang Telah Meneror Saya Untuk Menulis Tentangnya

Biasanya, aku menulis di sini mengenai tentang diriku sendiri. Tapi sekarang aku akan menulis tentang sahabatku.

Baru saja aku diteror olehnya.

"Jika kau tidak menulis tentangku malam ini dan besok tulisanmu masih belum muncul di Facebookku, kau akan tahu akibatnya." ancamnya dari seberang sana memalui saluran telepon.

"Akibatnya aku akan jadi pacarmu ya..." ucapku kalem.

Lalu tiba-tiba dia berada di depanku dan melemparkan telepon genggamnya ke arah kepalaku. Aku pun menangkapnya dan menjualnya ke pasar maling. Hidup itu memang mudah....

Baiklah, dia sahabatku sejak SMA dulu. Namanya

Sabtu, 30 November 2013

Mimpi

Haahh....
Malam yang indah... Malam minggu, ah, maksudku sabtu malam seperti ini memang paling menyenangkan hanyalah menulis. Ini mengingatkanku pada memori setahun yang lalu, saat di mana aku menulis di sini yang juga saat malam minggu. Tempatnya pun tidak jauh dari tempatku sekarang menulis. Kira-kira 200 meter menurutku.

Sekarang, mari membicarakan hal lain.